Selamat Datang

SELAMAT DATANG.

Motto Organisasi PELPA

Alam adalah tempat untuk menguji kepribadian dan keteguhan hati seseorang Alam tidak akan hidup tanpa adanya orang-orang yang berfikir dan menghargainya.

IKRAR PELPA

Kami menjadi satu dalam nafas Pencinta Alam SMK Negeri 1 Pontianak dan rela berkorban dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai akademis, baik di dalam maupun di luar sekolah.

Organisasi PELPA

Alam adalah tempat untuk menguji kepribadian dan keteguhan hati seseorang Alam tidak akan hidup tanpa adanya orang-orang yang berfikir dan menghargainya

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 30 November 2011

PEMANJATAN

Prosedur Pemanjatan

            Dalam  suatu pemanjatan semua yang dilakukan haruslah terencana. Baik persiapan peralatan, pemasangan alat yang tepat, perhitungan langkah yang cepat, manajement rope, serta memperhatikan faktor keselamatan.
Proses memanjat merupakan gabungan dari berbagai kegiatan dasar sebagai berikut:
1.  Mengamati  mengenal medan dan menentukan lintasan yang akan dilalui baik  secara keseluruhan maupun selangkah demi selangkah.
2. Memikirkan teknik yang akan digunakan secara keseluruhan maupun selangkah demi selangkah.
3.  Mempersiapkan persiapan yang diperlukan.
4. Gerak memanjat yang sesuai dengan lintasan dan teknik yang telah di rencanakan.
5.  Penyimpanan energi/ istirahat 

Istilah dalam pemanjatan
Leader                         : Orang yang pertama memanjat / membuka jalur
Belayer                        : Orang yang mengamankan si pemanjat
Boulder                        : Latihan ketrampilan/ merambat
Travers                        : Berpindah / kekiri atau kekanan
Tope rope                    : Memanjat dengan tali yang terpasang
Hanging belay             : Si pengaman membelay sambil menggantung

 Teknik Memanjat

Teknik memanjat pada dasarnya merupakan cara agar kita dapat menempatkan tubuh sedemikian rupa sehingga, Cukup stabil, Memberi peluang untuk bergerak/memanjat, Dapat bertahan lama/tidak melelahkan .
Stabilitas/keseimbangan kedudukan badan muncul sebagai hasil hubungan antara berat badan gaya tumpuan/pegangan yang diberikan oleh permukaan tebing. Pengaruh letak badan, gaya tumpuan dan pegangan menentukan kestabilan yang diperoleh. Peluang gerak (untuk mendaki lebih lanjut) ditentukan oleh kemampuan menempatkan tubuh pada tempat yang cocok untuk kondisi medan yang dihadapi. Pada umumnya dinding tebing terdiri dari crack dan ledges karena pengaruh iklim, suhu, dan lain. Karena bermacam-macam kondisi permukaan dinding

Teknik memanjat dikelompokan berdasarkan 3 kategori umum yaitu:
a. Face Climbing
Yaitu memanjat pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan atau rongga yang memadai sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan. Para pendaki pemula biasanya, mempunyai kecenderungan untuk mempercayakan sebagian besar berat tubuhnya pada tangan dan juga menampatkan badan rapat pada tebing. Ini adalah kecenderungan yang salah. Dalam pemanjatan usahakan untuk selalu memiliki tiga titik tumpuan, dari dua tangan satu kaki, atau dua kaki satu tangan.
b. Friction/slab climbing
Teknik ini semata-mata hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya tumpu. Ini dilakukan pada permukaan tebing yang tidak terlalu vertical, dimana kekerasan permukaan tebing cukup untuk menghasilkan gaya gesekan.
c. Fissure Climbing
Jika diperhatikan bagaimana sebuah pasak dapat terbenam erat-erat dalam celah maka terlihat bahwa pasak sudah tercabut dari celah tempat dipasang karena adanya gaya penahan yang diberikan oleh dinding celah tersebut. Celah/crack dapat dipergunakan untuk menghasilkan gaya penahan sedemikian rupa dengan mempergunakan anggota badan atau bagian dari anggota badan yang seolah-olah berfungsi sebagai pasak.

Teknik pemanjatan yang sekarang ini terbagi menjadi 3 bagian  :
a. Artifisial Climbing
            Adalah pemanjatan yang seluruhnya menggantungkan pada peralatan. Baik itu peralatan pengaman sisip yang menggunakan rekahan-rekahan maupun peralatan untuk melubangi tebing yaitu bor.
b. Free Climbing
            Dapat diartikan suatu pemanjatan yang “on sight”, pemanjatan yang benar-benar menggunakan  ketrampilan walaupun tetap menggunakan alat atau pegangan sisip atau paku tebing, pengaman hanya untuk istirahat dan pengamanan saat pemanjat jatuh
c. Solo Climbing
            Adalah teknik pemanjatan yang dilakukan seorang diri tanpa adanya orang kedua sebagai pengaman.


TEKNIK-TEKNIK DALAM PEMANJATAN TEBING
☻  PEGANGAN
Idealnya, pegangan tangan lebih banyak berfungsi mendukung tumpuan beban di kaki dan menjaga keseimbangan tubuh dan berfungsi membantu kaki dalam menopang beban tubuh.
·  Open Grip
Teknik open grip biasa digunakan pada permukaan yang luas bentuk sebuah genggaman. Apabila permukaan tebing besar untuk sebuah genggaman, seluruh jari dan telapak tangan teknik ini dapat digunakan.
·  Pinch Grip
Sesuai namanya, pinch grip adalah teknik pegangan tangan seperti mencubit. Kekuatan pegangan diperoleh karena tekanan antara ibu jari dengan jari-jari lainnya secara berlawanan arah mencubit permukaan tebing. Teknik pinch grip biasa digunakan pada cacat tebing berupa tonjolan.
·  Crimp Grip
Teknik crimp grip, pada umumnya dilakukan pada permukaan tebing yang tipis. Teknik ini sangat mengandalkan kekuatan yang besar pada otot-otot jari.
·  Palming
        Dalam teknik palming, bagian telapak tangan yang digunakan sebagai pegangan. Fungsi tangan pada palming, sebagai penopang dan pendorong beban tubuh naik ke atas. Teknik ini dapat digunakan pada permukaan tebing yang slab.
·  SidePull
        Sidepull adalah teknik pegangan dengan cara menarik celah rekahan tebing ke arah samping kanan atau kiri karena bentuk celah rekahan biasanya memanjang vertical. Teknik sidepull dapat digunakan misalnya untuk posisi istirahat selama perintisan jalur dengan cara posisi tangan diluruskan semaksimal mungkin.
·  Jamming
Tiga jenis pegangan jamming yaitu :
a. fingers jamming
         Digunakan pada crack yang hanya menyisakan celah untuk beberapa ruas jari. Caranya adalah memasukkan jari-jari ke dalam crack semaksimal mungkin dengan posisi jempol ke bawah dan telapak tangan menghadap keluar, lalu putar pergelangan tangan ke arah bawah.
b. Hand Jamming
      Apabila crack lebih lebar dan dapat menampung seluruh bagian telapak tangan, maka teknik ini dapat digunakan. Caranya adalah memasukkan telapak tangan ke dalam crack dengan posisi jempol diselipkan dibagian dalam telapak tangan.
c. First Jamming
      Kita dapat menggunakan teknik ini untuk crack yang lebih lebar lagi yaitu dengan cara menjejali crack dengan telapak tangan. Kedua sisi kiri dan kanan kepalan tangan akan menekan kedua sisi crack sehingga kepalan tangan mengunci pegangan.
·  Off-width
      Teknik ini digunakan ketika ukuran tangan sudah tidak bisa menjangkau sisi crack. Crack terlalu lebar untuk dijejali tangan. Cara yang dapat digunakan untuk adalah dengan memanfaatkan seluruh bagian lengan, mulai dari telapak tangan hingga punggung dengan menggunakan teknik off-width.
·  Stemming and Bridging
      Digunakan pada crack yang sangat lebar tetapi kedua sisinya masih dijangkau dengan tangan. Crack untuk teknik ini biasa berbentuk cerobong asap. Crack semacam ini disebut dengan chimney.

PIJAKAN
Bentuk pijakan kaki di tebing menyesuaikan dengan bentuk permukaan tebing. Bentuk permukaan tebing sendiri bervariasi.
·  Smearing
Teknik smearing biasa dipakai pada permukaan tebing slab, yaitu muka tebing dengan yang kemiringannya kurang dari 90 derajat. Dalam teknik ini, hampir seluruh beban tubuh bertumpu pada kaki.
·  Edging
Pada permukaan tebing yang tegak lurus bersudut 90 derajat atau lebih (overhang). Pijakan kaki lebih optimal menggunakan teknik edging, yaitu memanfaatkan ujung depan sepatu panjat pada permukaan tebing yang tipis.
·  Hooking
Kaki tidak hanya berfungsi sebagai pijakan yang menopang tubuh, tetapi digunakan sebagai pengait yang menahan tubuh saat tubuh dalam posisi menggantung pada medan overhang atau roof.

Memanjat Tebing Slab dan Overhang
Tebing alam yang yang kita panjat tidak selalu 90 derajat vertikal. Tebing yang derajat kemiringannya lebih besar dari 90 biasa disebut Slab. Tergantung dari jenis batu ditebing tersebut, untuk memanjat slab pada umumnya diperlukan banyak friksi atau kontak dari sebagian besar karet sepatu.
Pada saat memanjat tebing slab posisi badan harus cenderung tegak lurus yang memungkinkan pusat gravitasi yang jatuh (tekanan berat badan) sepenuhnya tertumpu pada bagian kaki yang menempel pada tebing. jika memanjat tebing slab dengan posisi badan yang paralel/ sejajar dengan kemiringan tebing,akan mudah tergelincir dan jatuh. Posisi yang salah ini sangat populer dikalangan pemula dikarenakan rasa takut jatuh yang membuat mereka berpikir dengan memeluk/menempelkan badan ke tebing akan menyelamatkan mereka.
Sedangkan tebing yang kemiringannya lebih kecil dari 90 derajat biasa disebut Overhang. Untuk memanjat tebing overhang diperlukan kekuatan yang tinggi dan tehnik memanjat yang baik. Salah satu kekuatan yang penting yaitu core strength atau kekuatan otot-otot perut, Karena otot perut diperlukan untuk menghubungkan kekuatan tangan dan kekuatan kaki sehingga badan akan tetap dekat dengan tebing yang akan membuat mudah mengontrol keseimbangan.
Hal yang perlu diperhatikan dalam memanjat tebing overhang :
1.Memanjat dengan cepat. Saat memanjat tebing overhang tangan lebih cepat lelah. Dengan memanjat cepat dan menggunakan energi yang se-efektif dan se-efeisien mungkin. Memanjat dengan cepat artinya harus cepat dalam mengambil keputusan dimana akan menempatkan kaki dan pegangan mana yang akan dicapai berikutnya.
2.Pertahankan tiga titik kontak atau Three points of Contact. Rumus ini dikenal sebagai aturan dasar memanjat tebing untuk para pemula Pada saat melakukan gerak vertikal usahakan tiga titik tetap menempel yaitu dua kaki dan satu tangan, atau sebaliknya; dua tangan dan satu kaki.
3.Pada saat posisi pegangan dan tumpuan kaki sudah bagus dan mendukung istirahatlah dan goyang-goyangkan tangan dan jari-jari supaya otot-otot lebih segar untuk mengeksekusi gerak selanjutnya. Untuk pemanjatan rute panjang, harus pintar-pintar mengambil kesempatan untuk sering  beristirahat.
4.Tetaplah fokus dan bernafas dengan baik.

ROCK CLIMBING

               Rock climbing pada dasarnya adalah teknik memanjat tebing dengan memanfaatkan cacat batuan, baik tonjolan maupun rekahan. kegiatan ini memerlukan penguasaan teknik mendaki yang khusus dan peralatan mendukung yang memadai. Kemampuan untuk mencengkram dari tangan, menjejal dan menjajak dari kaki adalah mutlak diperlukan juga pemusatan berat tubuh dan keseimbangan menjadi hal yang penting pula.

Disamping itu, penguasaan penggunaan alat adalah hal yang tidak bisa ditinggalkan. Peralatan pendukung diperlukan ketika melakukan pemanjatan pada tebing-tebing yang sudah tidak mungkin lagi ditempuh tanpa peralatan (mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi) atau dianggap terlalu berbahaya apabila ditempuh dengan tidak menggunakan peralatan. Untuk menjadi seorang pemanjat yang baik,diperlukan beberapa persyaratan  yaitu antara lain; sikap mental, pengetahuan dan ketrampilan, kondisi fisik yang prima dan etika.

Dalam mencapai hasil yang terbaik dalam kegiatan ini, diperlukan persiapan yang matang dalam hal fisik maupun mental serta persiapan lain yang mendukung kegiatan ini.



PERLENGKAPAN ROCK CLIMBING

Perlengkapan dalam kegiatan rock climbing ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Perlengkapan Pribadi
a. Sepatu
Sepatu merupakan peralatan dasar pertama yang harus dimiliki seorang pemanjat. Keutamaan sepatu adalah pada karet solnya yang ampuh untuk mencengkram tebing. Sepatu ini mempunyai ciri khusus yaitu pada solnya yaitu kelenturan karet sol sepatunya yang mengikuti bentuk permukaan tebing yang tidak beraturan. Keseimbangan sol pada sepatu ini yaitu bila mendapat tekanan yang memanjang (mengikuti arah jari kaki) sol itu akan lentur, sesuai dengan gerak telapak kaki. Tetapi kalau mendapat tekanan yang melebar sol itu akan kaku dan keras. Namun, sepatu belum tentu cocok dengan kondisi tebingnya. Tidak semua tebing mempunyai karakteristik yang sama Sepatu panjat mempunyai 3 jenis sol karet yaitu,Hardsoftmedium.
Untuk memanjat tebing yang bercelah lebar (wide crack) seperti di big wall, sepatu panjat yang tinggi hingga menutupi mata kaki lebih sesuai dan memiliki sol yang keras (hard sole) serta efektif untuk memanjat celah yang lebar. Untuk tebing-tebing vertikal dan mulus, membutuhkan sol sepatu yang lembut agar ujung-ujung kaki dapat merasakan pijakan batu tebing.
b. Pakaian
Pakaian harus dapat melindungi si pemakai dari gangguan medan dan cuaca. Yang meliputi pakaian untuk kepala, badan, kaki, dan tangan.
c. Perlengkapan Tambahan
Meliputi  perlengkapan untuk tidur/menginap, bekal makanan/minuman, perlengkapan memasak, obat-obatan dan lain-lain.
2. Perlengkapan Teknis
a.  Tali (Rope)
Tali yang dipergunakan dalam pendakian (Climbing Rope) sebaiknya bersifat fleksibel, elastis dan tahan lama terhadap beban yang berat. Diameter tali berkisar 11, 10, dan 9 mm. kemampuan menahan beban berkisar antara 3000-6000pounds (lbs). Bahan yang dipergunakan umumnya nylon. Dalam kegiatan pecinta alam ada dua macam tali yang biasa dipakai, yaitu :

*        Kernmantle
Tali ini mempunyai 2 bagian, bagian inti (Kern) dan lapisan yang menyelimutinya (Mantle). Berdasarkan elastisitas kelenturannya, tali kernmantle ada 3 jenis, yaitu:
Kernmantle static
Ø      Bagian dalam tidak dianyam, bagian luarnya dianyam rapat sehingga daya elongasi tidak begitu tinggi antara 3-5 %, apabila terkena beban    normal.
Ø      Cenderung kaku
Ø      Diameter 9-10 mm
Ø      Biasa digunakan untuk caving vertical
Ø      Biasanya berwarnakan putih , dimaksudkan untuk mudah terlihat dalam kegelapan
#  Kernmantle Dynamic
Ø      Bagian intinya dianyam, bagian luarnya dianyam cukup renggang sehingga daya elongasi/lenturnya yang dipunyai cukup tinggi,berkisar 5-20 % apabila terkena beban normal. Sehingga dalam menahan jatuh dapat menyerapimpact force/tenaga yang cukup tinggi.
Ø      Diameter 8, 9 mm atau 10,5 mm
Ø      Biasa digunakan untuk panjat tebing
Ø      Berwarna terang atau mencolok
#  Semi static dan dynamic
Ø      Bagian luarnya tidak dianyam dengan rapat tapi bagian dalamnya lurus sehingga
Ø      daya lenturnya rendah tetapi cukup mudah untuk membuat simpul
Ø      Biasanya digunakan untuk rescue agar korban tidak mengalami banyak guncangan

Kelebihan dari tali kernmantleTidak berat, elastis, kekuatan lebih besar dibanding Hawser Laid.
Kelemahan dari tali kernmantleSulit/ tidak dapat langsung dilihat apabila mengalami keausan karena terbungkus mantelnya
Dalam rock climbing, tali digunakan sebagai pengaman dalam pendakian, kecuali apabila menemui lintasan yang sulit untuk dilalui (misal over hang), kita sepenuhnya bergantung pada tali.
*        Hawser Laid
Tali ini dibuat dari hasil pilinan 3 bagian.yang masing-masing juga
dibuat dari hasil pilinan.tali ini mempunyai beberapa kelebihan, antara lain :
Ø      Tahan terhadap abrasi.
Ø      Mempunyai daya lentur yang tinggi (40%).
Ø      Dalam keadaan darurat, tali dapat diurai menjadi 3 bagian yang masing-masing terpilin, lalu disambung-sambung sehingga mendapatkan tali yang 3 kali lebih panjang.
Sedangkan kelemahan tali ini adalah :
Ø      Cenderung menjadi kaku jika sudah banyak dipakai, sehingga agak sukar membuat simpul.
Ø      Cenderung melintir jika dipakai untuk rappelling/abseiling.
Ø      Debu dan kerikil yang mudah melekat pada tali ini mengakibatkan kerusakan pada tali bantu yang lain.
b.  Helmet
Terbuat dari bahan yang ringan namun kuat untuk menahan benda-benda yang tajam (bagian luar). Sementara di bagian dalam terdapat lapisan yang berguna untuk menahan benturan langsung dengan bagian luar, selain itu dilengkapi dengan tali pengikat di dagu. Berfungsi sebagai pelindung kepala dari jatuhan batu atau benturan tebing.
c.  Harness
Tali pengaman tubuh yang berfungsi sebagi sabuk pengaman. Ada dua macam harness yaitu:
# Sit Harness
Sabuk pengaman yang dililitkan pada pinggang sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai pengaman. Jika kita menggunakan sit harness dan dalam pendakian kita jatuh, posisi kaki kita kemungkinan di atas, dan kemungkinan kita lolos/lepas dari harness bisa terjadi.
# Full Body Harness
Ini lebih aman di banding sit harnessBila kita jatuh, posisi kaki kita akan tetap di bawah.
d.   Webbing
Alat disebut webbing (pita) karena bentuknya pipih lebar seperti pita. Fungsi utama webbing  adalah menghubungkan pengaman sisip pada celah tebing dengan tali yang disimpul pada harness pemanjat. Webbing sering pula digunakan untuk menghubungkan berbagai peralatan panjat dengan mengikatnya satu sama lain menggunakan carabiner, misalnya menghubungkan harnessdengan jumar.
e.     Carabiner
Carabiner adalah sebuah cincin yang berbentuk oval atau D dan mempunyai‘gate’ yang berfungsi sebagai penghubung antara tali dengan carabinerBiasanya terbuat dari alumunium alloy dan mempunyai kekuatan antara 1500-3500 kg. Ada  dua jenis carabiner yaitu, non-screw gate dan screw gateCarabiner merupakan salah satu alat yang terpenting dalam memanjat tebing. Carabiner yang baik dan aman harus mampu menahan beban 2200 kg (pintu tertutup) atau 1200 kg (pintu terbuka) dengan posisi poros yang panjang utama dan harus menahan beban berat 600 kg pada poros yang pendek.
f.   Sling dan Runner
Sling biasa terbuat dari nylon, dibuat dari tubular webbing dan terdiri dari 3 tipe:
Standar, panjang 10 feet lebar 1 inchi dibentuk menjadi sebuah loop dan dihubungkan dengan simpul.
Prusik Sling, dibuat dari bahan gold line 0,25 inchi atau nylon 3/8 inchi.
Hero Loop, sling pendek dari nylon, panjangnya antara 20-27 inchi.
Sling biasa digunakan untuk menghubungkan pengaman yang menempel ditebing dengan tali. Pengaitnya menggunakan carabiner. Cara paling sederhana membuat sling adalah dengan menggunakan webbing yang dibuat loop. Kedua ujung sling yang diberi carabiner disebut runner dan berfungsi sebagai penambat tali.
g.  Chock
Chock terdiri dari sebuah sling atau kawat baja yang dikaitkan pada semacam bandul logam berfungsi sebagai pasak dan sling sebagai penghubung. Berdasarkan jenisnya, chock mempunyai 2 bentuk yaitu stopper dan hexentrix.Ujung bagian chock stopper berbentuk segi empat sedangkan hexentrix berbentuk segi enam. Masing-masing mempunyai fungsi tergantung pada celah tebingnya dan sebagai pengaman.
h.  Cam Unit /Friend
Pengaman sisip ini berbentuk seperti setengah lingkaran roda bergerigi yang memiliki tangkai. Cara menggunakan friend hampir sama dengan pengamanchock yaitu diselipkan pada celah tebing. Roda-roda yang bergerigi dengan fleksibilitas pegasnya akan mendorong sisi-sisi tebing sehingga akan menghasilkan daya cengkram friend. Friend terdiri atas dua jenis rigid danflexible. Pada friend jenis rigid, tangkainya berupa batangan logam yang kaku, tidak tepat penggunaannya dicelah tebing. Pada friend jebis fleksibel, tangkainya dari kawat besi sehingga lebih dinamis dan dapat digunakan untuk segala macam celah tebing.
 i.    Phiton
Phiton atau paku tebing merupakan pengaman yang paling klasik. Melihat jenisnya ada 2 jenis phiton yang masing-masing mempunyai ukuran bervariasi.Phiton jenis blade berbentuk pipih menyerupai pisau. Jenis ini efektif untuk celah-celah sempit. Phiton jenis angle digunakan untuk celah yang lebih besar. Cara menggunakan phiton adalah dengan menyelipkannya pada celah tebing dan memukul-mukul phiton dengan hammer seperti paku.
  j.  Jummar (ascender)
Suatu alat bantu untuk naik yang dipasang pada tali digunakan untuk teknikascending. Cara kerjanya adalah ketika beban bertumpu pada ascender, maka tali akan terjepit padanya, dan ketika beban tidak bertumpu pada ascender maka akan mudah digerakan ke atas. Kelemahannya cenderung merusak tali, karena penjepitnya (camp) yang berbentuk paku-paku tajam mencengkram tali dengan dalam. Bila tidak ada alat ini bisa diganti dengan prusik dengan cara dililitkan pada tali (prusik knot).
 k. Alat Belay (Descender & Grigri)
Alat belay mempunyai fungsi utama untuk melakukan teknik belay. Beberapa alat belay mempunyai funsi ganda sebagai alat rappelling, misalnya descender (figure of eight). Sebagai alat belay, descender merupakan alat paling favorit karena mempunyai prinsip kerja yang sederhana dan mudah di gunakan. Selaindescendergrigri dapat digunakan untuk teknik belay alat ini bekerja otomatis saat melakukan belay, mengunci sendiri ketika dibebani.
 l.  Prussik
Tali kermantle yang berdiameter kecil (0,5-0,6) atau bisa diganti dengan talinylon yang dihubungkan dengan fisherman knot sehingga menjadi sebuah loop. Fungsi prussik sangat banyak sehingga dalam setiap pemanjatan tebing alat ini harus selalu dibawa. Sifatnya statis.
m. Hammer/Palu
Dipakai untuk menancapkan piton/paku tebing ke dalam celah. Mempunyai bentuk yang khas yaitu bagian yang untuk menancapkan piton lebar dan cukup sebaliknya di sisi lain haruslah runcing (baji). Di bagian baji ini hendaknya ada bagian untuk mencongkel piton. Antara palu dan tangkainya haruslah menjadi satu dan di bagian tangkainya hendaknya ada lubang kecil sebagai untuk mengikat palu.
n. Stirr up/tangga tali
Ada dua jenis yaitu, metal stirr up yang terbuat dari logam dan dihubungkan dengan tali, dan sling stirr up yang terbuat dari tali. Digunakan sebagai alat bantu pada pemanjatan tebing apabila kita menemukan jalur yang sulit untuk di daki (misal : overhang)
o. Chalk Bag (kantong kapur) dan Magnesium
Suatu kantong yang biasanya digunakan untuk menaruh bubuk kapur. Kapur hanya berfungsi untuk membuat tangan tidak basah karena keringat saat memanjat, sehingga cengkraman atau genggaman tangan lebih kuat. Kapur yang sering digunakan adalah kapur magnesium carbonat (MgCO3). yang diikatkan pada bagian belakang pinggang.

Materi Navigasi

 PENDAHULUAN

Navigasi adalah pengetahuan untuk mengetahui keadaan medan yang akan dihadapi, posisi kita di alam bebas dan menentukan arah serta tujuan perjalanan di alam bebas.
Pengetahuan tentang navigasi darat ini meliputi
1. Pembacaan peta
2. Penggunaan kompas
3. Penggunaan tanda‑tanda alam yang membantu kita dalam menentukan arah

Pengetahuan tentang navigasi darat ini merupakan bekal yang sangat penting bagi kita untuk bergaul dengan alam bebas dari padang ilalang, gunung hingga rimba belantara. Untuk itu memerlukan alat‑alat seperti
1. Peta topografi
2. Penggaris
3. Kompas
4. Konektor
5. Busur derajat
6. Altimeter
7. Pensil

PETA TOPOGRAFI
Peta adalah gambaran dari permukaan bumi yang diperkecil dengan skala tertentu sesuai dengan kebutuhan. Peta digambarkan di atas bidang datar dengan sistem proyeksi tertentu. Peta yang digunakan untuk kegiatan alam bebas adalah Pete Topografi.
Peta topografi adalah suatu representasi di atas bidang datar tentang seluruh atau sebagian permukaan bumi yang terlihat dari atas dare diperkecil dengan perbandingan ukuran tertentu. Peta topografi menggambarkan secara proyeksi dari sebagian fisik bumi, sehingga dengan peta ini bisa diperkirakan bentuk permukaan bumi. Bentuk relief bumi pada peta topografi digambarkan dalam bentuk Garis‑Garis Kontur.
Dalam menggunakan peta topografi harus diperhatikan kelengkapan petanya, yaitu:
1. Judul Peta
Adalah identitas yang tergambar pada peta, ditulis nama daerah atau identitas lain yang menonjol.
2. Keterangan Pembuatan
Merupakan informasi mengenai pembuatan dan instansi pembuat. Dicantumkan di bagian kiri bawah dari peta.
3. Nomor Peta (Indeks Peta)
Adalah angka yang menunjukkan nomor peta. Dicantumkan di bagian kanan atas.
4. Pembagian Lembar Peta
Adalah penjelasan nomor‑nomor peta lain yang tergambar di sekitar peta yang digunakan, bertujuan untuk memudahkan penggolongan peta bila memerlukan interpretasi suatu daerah yang lebih luas.

5. Sistem Koordinat
Adalah perpotongan antara dua garis sumbu koordinat. Macam koordinat adalah:
a. Koordinat Geografis
Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (BB dan BT), yang berpotongan dengan garis lintang (LU dan LS) atau koordinat yang penyebutannya menggunakan garis lintang dan bujur. Koordinatnya menggunakan derajat, menit dan detik. Misal Co 120° 32′ 12″ BT 5° 17′ 14″ LS.
b. Koordinat Grid
Perpotongan antara sumbu absis (x) dengan ordinal (y) pada koordinat grid. Kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak (meter), sebelah selatan ke utara dan barat ke timur dari titik acuan.
c. Koordinat Lokal
Untuk memudahkan membaca koordinat pada peta yang tidak ada gridnya, dapat dibuat garis‑garis faring seperti grid pada peta.
Skala bilangan dari sistem koordinat geografis dan grid terletak pada tepi peta. Kedua sistern koordinat ini adalah sistem yang berlaku secara internasional. Namun dalam pembacaan sering membingungkan, karenanya pembacaan koordinat dibuat sederhana atau tidak dibaca seluruhnya.
Misal: 72100 mE dibaca 21, 9° 9700 mN dibaca 97, dan lain‑lain.
6. Skala Peta
Adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak horisontal sebenarnya di medan atau lapangan. Rumus jarak datar dipeta dapat di tuliskan
JARAK DI PETA x SKALA = JARAK DI MEDAN
Penulisan skala peta biasanya ditulis dengan angka non garis (grafis).
Misalnya Skala 1:25.000, berarti 1 cm di peta sama dengan 25 m di medan yang sebenarnya.
7. Orientasi Arah Utara
Pada peta topografi terdapat tiga arah utara yang harus diperhatikan sebelum menggunakan peta dan kompas, karena tiga arah utara tersebut tidak berada pada
satu garis. Tiga arah utara tersebut adalah:
a. Utara Sebenarnya (True North/US/TN) diberi simbol * (bintang), yaitu
utara yang melalui Kutub Utara di Selatan Bumi.
b. Utara Peta (Grid Nortb/UP/GN) diberi simbol GN, yaitu Utara yang sejajar
dengan garis jala vertikal atau sumbu Y. Hanya ada di peta.
e. Utara Magnetis (Magnetic North/UM) diberi simbol T (anak pariah
separuh), yaitu Utara yang ditunjukkan oleh jarum kompas. Utara magnetis selalu mengalami perubahan tiap tahunnya (ke Barat atau ke Timur) dikarenakan oleh pengaruh rotasi bumi. Hanya ada di medan.
Karena ketiga arah utara tersebut tidak berada pada satu garis, maka akan terjadi penyimpangan‑penyimpangan sudut, antara lain:
a.      Penyimpangan sudut antara US ‑ UP balk ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Peta (IP) atau Konvergensi Merimion. Yang menjadi patokan adalahUtara Sebenarnya (US).
b.     Penyimpangan sudut antara US ‑ UM balk ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Magnetis (IM) atau Deklinasi. Yanmg menjadi patokan adalah l Utara sebenarnya ((IS).
c.      Penyirnpangan sudut antara UP ‑ UM balk ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Utara Peta‑Utara Magnetis atau Deviasi. Yang menjadi patokan adalah Utara Pela f71′).
Dengan diagram sudut digambarkan

US           UP                UM

TRUE NORTH     MAGNETIS NORTH
8. Garis Kontur atau Garis Ketinggian
Garis kontur adalah gambaran bentuk permukaan bumi pada peta topografi.
Sifat‑sifat garis kontur, yaitu’.
a.    Garis kontur merupakan kurva tertutup sejajar yang tidak akan memotong satu sama lain dan tidak akan bercabang.
b.   Garis kontur yang di dalam selalu lebih tinggi dari yang di luar.
c.    Interval kontur selalu merupakan kelipatan yang sama
d.    Indek kontur dinyatakan dengan garis tebal.
e.    Semakin rapat jarak antara garis kontur, berarti semakin terjal Jika garis kontur bergerigi (seperti sisir) maka kemiringannya hampir atau sama dengan 90°.
f.    Pelana (sadel) terletak antara dua garis kontur yang sama tingginya tetapi terpisah satu sama lain. Pelana yang terdapat diantara dua gunung besar dinamakan PASS.
9. Titik Triangulasi
Selain dari garis‑garis kontur dapat pula diketahui tinggi suatu tempat dengan  pertolongan titik ketinggian, yang dinamakan titik triangulasi Titik Triangulasi  adalah suatu titik atau benda yang merupakan pilar atau tonggak yang  menyatakan tinggi mutlak suatu tempat dari permukaan laut. Macam‑macam titik  triangulasi
a. Titik Primer, I’. 14 , titik ketinggian gol.l, No. 14, tinggi 3120 mdpl.  3120
b. Titik Sekunder, S.45 , titik ketinggian gol.II, No.45, tinggi 2340 rndpl.  2340
c. Titik Tersier, 7: 15 , titik ketinggian gol.III No. 15, tinggi 975 mdpl  975
d. Titik Kuarter, Q.20 , titik ketinggian gol.IV, No.20, tinggi 875 mdpl.  875
e. Titik Antara, TP.23 , titik ketinggian Antara, No.23, tinggi 670 mdpl. 670
f. Titik Kedaster, K.131 , titik ketinggian Kedaster, No.l 31, tg 1202 mdpl. 7202
g. Titik Kedaster Kuarter, K.Q 1212, titik ketinggian Kedaster Kuarter,  No. 1212, tinggi 1993 mdpl. 1993
10. Legenda Peta
Adalah informasi tambahan untuk memudahkan interpretasi peta, berupa unsur yang dibuat oleh manusia maupun oleh alam. Legenda peta yang penting
untuk dipahami antara lain:
a. Titik ketinggian
b. Jalan setapak
c. Garis batas wilayah
d. Jalan raya
e. Pemukiman
f. Air
g. Kuburan
h. Dan Lain‑Lain

MEMAHAMI PETA TOPOGRAFI

A. MEMBACA GARIS KONTUR
1. Punggungan Gunung
Punggungan gunung merupakan rangkaian garis kontur berbentuk huruf U,  dimana Ujung dari huruf U menunjukkan ternpat atau daerah yang lebih  pendek dari kontur di atasnya.
2. Lembah atau Sungai
Lembah atau sungai merupakan rangkaian garis kontur yang berbentuk n  (huruf V terbalik) dengan Ujung yang tajam.
3. Daerah landai datar dan terjal curam
Daerah datar/landai garis kontumya jarang jarang, sedangkan daerah terjal/curam garis konturnya rapat.

B. MENGHITUNG HARGA INTERVAL KONTUR
Pada peta skala 1 : 50.000 dicantumkan interval konturnya 25 meter. Untuk mencari interval kontur berlaku rumus 1/2000 x skala peta. Tapi rumus ini tidak berlaku untuk semua peta, pada peta GUNUNG MERAPI/1408‑244/JICA TOKYO‑1977/1:25.000, tertera dalam legenda peta interval konturnya 10 meter sehingga berlaku rumus 1/2500 x skala peta. Jadi untuk penentuan interval kontur belum ada rumus yang baku, namun dapat dicari dengan:
1. Carl dua titik ketinggian yang berbeda atau berdekatan. Misal titik A dan B.
2. Hitung selisih ketinggiannya (antara A dan B).
3. Hitung jumlah kontur antara A dan B.
4. Bagilah selisih ketinggian antara A ‑ B dengan jumlah kontur antara A ‑ B, hasilnya adalah Interval Kontur.

C. UTARA PETA
Setiap kali menghadapi peta topografi, pertama‑tama carilah arah utara peta tersebut. Selanjutnya lihat Judul Peta (judul peta selalu berada pada bagian utara, bagian atas dari peta). Atau lihat tulisan nama gunung atau desa di kolom peta, utara peta adalah bagian atas dari tulisan tersebut.

D. MENGENAL TANDA MEDAN
Selain tanda pengenal yang terdapat pada legenda peta, untuk keperluan
orientasi harus juga digunakan bentuk‑bentuk bentang alam yang mencolok di lapangan dan mudah dikenal di peta, disebut Tanda Medan. Beberapa tanda medan yang dapat dibaca pada peta sebelum berangkat ke lapangan, yaitu:
1. Lembah antara dua puncak
2. Lembah yang curam
3. Persimpangan jalan atau Ujung desa
4. Perpotongan sungai dengan jalan setapak
5. Percabangan dan kelokan sungai, air terjun, dan lain‑lain.

Untuk daerah yang datar dapat digunakan:
1. Persimpangan jalan
2. Percabangan sungai, jembatan, dan lain‑lain.

E. MENGGUNAKAN PETA
Pada perencanaan perjalanan dengan menggunakan peta topografi, sudah
tentu titik awal dan titik akhir akan diplot di peta. Sebelurn berjalan catatlah:
1. Koordinat titik awal (A)
2. Koordinat titik tujuan (B)
3. Sudut peta antara A ‑ B
4. Tanda medan apa saja yang akan dijumpai sepanjang lintasan A ‑ B
5. Berapa panjang lintasan antara A ‑ B dan berapa kira‑kira waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan lintasan A ‑B.

Yang perlu diperhatikan dalam melakukan suatu operasi adalah
-         Kita harus tahu titik awal keberangkatan kita, balk di medan maupun di peta.
-         Gunakan tanda medan yang jelas balk di medan dan di peta.
-         Gunakan kompas untuk melihat arah perjalanan kita, apakah sudah sesuai dengan tanda  medan yang kita gunakan sebagai patokan, atau belum.
-         Perkirakan berapa jarak lintasan. Misal medan datar 5 krn ditempuh selama 60 menit dan medan mendaki ditempuh selama 10 menit.
-         Lakukan orientasi dan resection, bila keadaannya memungkinkan.
-         Perhatikan dan selalu waspada terhadap adanya perubahan kondisi medan dan perubahan arah perjalanan. Misalnya dari pnggungan curam menjadi punggungan landai, berpindah punggungan, menyeberangi sungai, ujung lembah dan lain‑lainnya.
-         Panjang lintasan sebenarnya dapat dibuat dengan cara, pada peta dibuat lintasan dengan jalan membuat garis (skala vertikal dan horisontal) yang disesuaikan dengan skala peta. Gambar garis lintasan tersebut (pada peta) memperlihatkan kemiringan lintasan juga penampang dan bentuk peta. Panjang lintasan diukur dengan mengalikannya dengan skala peta, maka akan didapatkan panjang lintasan sebenarnya.

F. MEMAHAMI CARA PLOTTING DI PETA
Plotting adalah menggambar atau membuat titik, membuat garis dan tandatanda tertentu di peta. Plotting berguna bagi kita dalam membaca peta. Misalnya Tim Bum berada pada koordinat titik A (3986 : 6360) + 1400 m dpl. SMC memerintahkan Tim Buni agar menuju koordinat titik T (4020 : 6268) + 1301 mdpl. Maka langkah‑langkah yang harus dilakukan adalah :
a.    Plotting koordinat T di peta dengan menggunakan konektor. Pembacaan dimuali dari sumbu X dulu, kemudian sumbu Y, didapat (X:Y).
b.   Plotting sudut peta dari A ke T, dengan cara tank garis dari A ke T, kemudian dengan busur derajat/kompas orientasi ukur besar sudut A ‑ T dari titik A ke arah garis AT. Pembacaan sudut menggunakan Sistem Azimuth (0″ ‑360°) searah putaran jarum Jain. Sudut ini berguna untuk mengorientasi arah dari A ke T.
c.    Interprestasi peta untuk menentukan lintasan yang efisien dari A menuju T. Interprestasi ini dapat berupa garis lurus ataupun berkelok‑kelok mengikuti jalan setapak, sungai ataupun punggungan. Harus dipaharni betul bentuk garis garis kontur.

Plotting lintasan dan memperkirakan waktu tempuhnya. Faktor‑faktor yang mempengaruhi waktu tempuh :
+ Kemiringan lereng + Panjang lintasan
+ Keadaan dan kondisi medan (misal hutan lebat, semak berduri atau gurun pasir).
+ Keadaan cuaca rata‑rata.
+ Waktu pelaksanaan (yaitu pagi slang atau malam).
+ Kondisi fisik dan mental serta perlengkapan yang dibawa.

G. MEMBACA KOORDINAT
Cara menyatakan koordinat ada dua cara, yaitu:
1. Cara Koordinat Peta
Menentukan koordinat ini dilakukan diatas peta dan bukan dilapangan. Penunjukkan koordinat ini menggunakan
a. Sistem Enam Angka  Misal, koordinat titik A (374;622), titik B (377;461)
b. Cara Delapan Angka  Misal, koordinat titik A (3740;6225), titik B (3376;4614)
2. Cara Koordinat Geografis
Untuk Indonesia sebagai patokan perhitungan adalah Jakarta yang dianggap 0 atau 106° 4$’ 27,79″. Sehingga di wilayah Indonesia awal perhitungan adalah kota Jakarta. Bila di sebelah barat kota Jakarta akan berlaku pengurangan dan sebaliknya. Sebagai patokan letak lintang adalah garis ekuator (sebagai 0). Untuk koordinat geografis yang perlu diperhatikan adalah petunjuk letak peta.

H. SUDUT PETA
Sudut peta dihitung dari utara peta ke arah garis sasaran searah jarum jam.
Sistem pembacaan sudut dipakai Sistem Azimuth (0° ‑ 360°). Sistem Azimuth
adalah sistem yang menggunakan sudut‑sudut mendatar yang besarnya dihitung
atau diukur sesuai dengan arah jalannya jarum jam dari suatu garis yang tetap (arah utara). Bertujuan untuk menentukan arah‑arah di medan atau di peta serta untuk melakukan pengecekan arah perjalanan, karena garis yang membentuk sudut kompas tersebut adalah arah lintasan yang menghubungkan titik awal dan akhir perjalanan.
Sistem penghitungan sudut dibagi menjadi dua, berdasar sudut kompasnya
-      AZIMUTH : SUDUT KOMPAS
-      BACK AZIMUTH : Bila sudut kompas > 180° maka sudut kompas dikurangi  180°.  Bila sudut kompas < 1800 maka sudut kompas ditambah  180°.

I. TEKNIK MEMBACA PETA
Prinsipnya .    ” Menentukan posisi dari arah perjalanan dengan membaca  peta dan menggunakan teknik orientasi dan resection, bila  keadaan memungkinkan ”
Titik Awal             : Kita harus tahu titik keberangkatan kita, balk itu di peta  maupun  di lapangan. Plot titik tersebut di peta dan catat  koordinatnya.
Tanda Medan         : Gunakan tanda medan yang jelas (punggungan yang menerus, aliran sungai, tebing, dll) sebagai guide line atau pedoman arah perjalanan. Kenali tanda medan tersebut dengan menginterpretasikan peta.
Arah Kompas          : Gunakan kompas untuk melihat arah perjalanan kita. Apakah sesuai  dengan arah punggungan atau sungai yang kita susuri.
Taksir Jarak         : Dalam berjalan, usahakan selalu menaksir jarak dan selalu memperhatikan arah perjalanan. Kita dapat melihat kearah belakang dan melihat jumalah waktu yang kita pergunakan. Jarak dihitung dengan skala peta sehingga kita memperoleh perkiraan jarak di peta. Perlu diingat, bahwa taksiran kita itu tidak pasti.

+10′ X 10′ untuk peta 1 : 50.000
+ 20′ X 20′ untuk peta 1 : 100.000
Untuk peta ukuran 20′ X 20′ disebut juga LBD, sehingga pada 20′ pada garis sepanjang khatulistiwa (40.068 km) merupakan paralel terpanjang.
40.068 km: (360° : 20′) = 40.068 km: (360° : 1/3) = 40.068 km: (360° X 3) 40.068 km : 1080 = 37,1 km

Jadi 20′ pada garis sepanjang khatulistiwa adalah 37,1 km. Jarak 37,1 km kalau digambarkan dalam peta skala 1 : 50.000 akan mempunyai jarak : 37,1 km = 3.710.000 cm. Sehingga dipeta : 3.710.000: 50.000 = 74,2 cm.

Akibatnya I LBD peta 20′ x 20′ skala 1 : 50.000 di sepanjang khatulistiwa berukuran 74,2 X 74,2 cm. Hal ini tidak praktis dalam pemakaiannya.

Lembar Peta
Dikarenakan LBD tidak praktis pemakaiannya, karena terlalu lebar. Maka tiap LBD dibagi menjadi 4 bagian dengan ukuran masing‑masing 10′ X 10′ atau 37,1 X 37,1 cm. Tiap‑tiap bagian itu disebut Lembar Peta atau Sheet, dan diberi huruf A, B, C, D. Jika skala peta tersebut 1 : 50.000, maka peta itu mempunyai ukuran 50.000 X 37,1 = 1.855.000 cm = 18,55 km (1ihat gambar).

Penomoran Lembar Peta
a.    Meridian (garis bujur) yang melalui Jakarta adalah 106° 48′ 27,79″ BT, dipakai sebagai meridian pokok untuk penornoran peta topografi di Indonesia. Jakarta sebagai grs bujur 0

b.   Panjang dari Barat ke Timur = 46° 20′, tetapi daerah yang dipetakan adalah mulai dari 12″ sebelah barat meridian Jakarta. Daerah yang tidak dipetakan adalah : 106° 48′ 27,79″ BT ‑ (12° + 46° 20′ BT) = 8′ 27,79″, daerah ini merupakan taut sehingga tidak penting untuk pemetaan darat. Tetapi penomorannya tetap dibuat

 

 

 

Keterangan

·   Daerah pada petak A dituliskan sheet 1/I‑A dan titik paling Utara dan paling Barat ada di Pulau Weh.
·   Cara pemberian nomor adalah dari Barat ke Timur dengn angka Arab (1,2, 3,  , 139). Dari Utara ke Selatan dengan angka Romawi (I, II,III  LI).
·   LBD selau mempunyai angka Arab dan Romawi. Contoh : LP No. 47[XLI atau SHEET No. 47/XLI.
·   Lembar peta selalu diben huruf, dan huruf itu terpisah dari nomor LBDnya dengan gar’s mendatar. Contoh: LP No. 47/XLI ‑ B.

Pada uraian diatas disebutkan bahwa garis bujur 0° Jakarta selalu membagi dua buah LBD. Maka untuk lembar peta lainnya selalu dapta dihitung berapa derajat atau menit letak lembar peta itu dan’ bujur 0° Jakarta
Contoh      : Lebar Peta No. 39/XL ‑ A terletak diantara garis 7″ dan 70 10′ LS serta        0° 40′ dan 0° 50′ Timur Jakarta. Kita harus selalu menyebutkan Lembar            Peta tersebut terletak di Barat atau Timur dan’ Jakarta.

d.   Pada Lembar Peta skala 1 : 50.000, LBD‑nya dibagi menjadi 4 bagian. Tetapi untuk peta skala 1 : 25.000, 1 LBD‑nya dibagi menjadi 16 bagian dan diberi huruf a sampai q dengan menghilangkan huruf j

e. Mencari batas Timur dan Selatan suatu.Sheet atau Lembar Peta.
Contoh
·   Batas Timur dari bujur 0″ Jakarta adalah 47/3 X I = 15″ 40′ Timur Jakarta atau 15° 40′ ‑ 12° = 3° 40′ BT Jakarta (batas paling Timur Sheet B).
·   Batas Selatan dan 0° Khatulistiwa adalah 47/3 : 1 = 13″ 40′ atau 13° 40′ 6″ = 7° 40′ LS. Karena terlatak pada Lembar Peta B dalam 1 LBD, maka dikurangi 10′. Sehingga didapat : 7° 40′ ‑ 10′ = 7″ 30′ LS

f. Mencari nomor Lembar Peta atau Sheet.
Batas Timur Jakarta = 15″ 40′, sedang batas Selatan adalah 7″ 30′ LS.  + Jumlah LBD ke Timur = 15° 40′ X 3 X 1 LBD = 47 LBD  + Jumlah LBD ke Selatan 13″ 40′ X 3 x 1 LBD = 41 LBD (XLI)

g. Mencari suatu Posisi/Lokasi
Contoh : sebuah pesawat terbang jatuh pada koordinat.‑ 110° 28′ BT dan  7° 30′ LS. Cari nomor Lembar Petanya Caranya adalah
+ 110° 28′ ‑ 94″ 40′ = 15″ 48′
15° 48′ X 3 = 47t’ 24′ (batas paling Timur)
+ 60 + 7″ 30′ = 13″ 30′
130 30′ X 3 = 40° 30′ (batas paling Selatan)




h. Perhitungan di Koordinat Geografis
·   CARA I
Luas dari I Sheet peta adalah 10′ X 10′, seluas 18,55 km X 18,55 km pada peta 1 ‑ 50.000. Sehingga di dapat (10 X 60 ‑ 18,5 5) ‑ 20 = 1,617,
dibulatken menjadi 1,62 (sebagai konstanta). Misal peta yang digunakan peta Sheet No. 47/XLI ‑ B
Triangulasi T. 932 terletak pada : 46 mm dari Timur dan 16 mm dari Selatan.
1915
Posisi Sheet 47/XLI ‑ B
1060 48` 27,79″ + 30 40′ = 110° 28′ 27,79″
Dari Timur: 46 mm X 1,62 = 1′ l4°52″
1100 28′ 27,79″ BT ‑ 1′ 14,52″ = 110° 27′ 13,27″ BT
(dikurangi karena semakin mendekati ke titik Jakarta).
Dari selatan : 16 mm X 1,62 = 25,92″
7° 30′ LS ‑ 25,92″ = 7f’ 29′ 34,08″ LS (dikurangi karena semakin mendekati equator).
Sehingga titik Triangulasi T. 932 terletak pada koordinat: 110° 27′  13,27″ BT dan 7° 29′ 34,08″ LS.                         1915
Untuk penggunaan peta 1 : 25.000, cara penghitungannya sama, hanya konstantanya diubah menjadi 0,81, yang didapat dari :
{(5 X 60) : 18,55 1 : 20 = 0,808, dibulatkan menjadi 0,81
Luas dari 1 Sheet peta skala 1 : 25.000 adalah 5′ X 5′

·   CARA 11
Dari Timur : 46 mm = (46 : 37,1) X 60 = 1 ‘ 14,39″
110° 28′ 27,79″ BT ‑ 1′ 14,39″ = 11 Of’ 27′ 13,40″ BT
Dari Selatan: 16 mm = (16 :37,1) X 60 = 25,87″
7° 30′ LS ‑ 25,87″ = 7t’ 29′ 34,13″ LS
Sehingga titik Triangulasi T. 932 terletak pada koordinat : I I0” 27′  13,40″ BT dan 7° 29′ 34,13″ LS.                                   1915
Pada hasil perhitungan Cara I dan Cara II terdapat selisih 0,13″ untuk BT dan 0,05″ untuk LS. Hal ini tidak jadi masalah karena masih dalam batas toleransi dan koreksi, yaitu kurang dari 1,00″.
Untuk penggunaan peta 5′ X 5′, 10′ X 10′ dan 20′ X 20′ tetap menggunakan pembagi 37,1. Sebaliknya, Jika ada laporan dengan koordinat gralicule, maka cara menentukan lokasinya pada peta adalah (Contoh) “Satu unit SRU menempati sebuah lokasi dengan koordinat 110° 27′ 13,27″ BT dan 7° 29′ 34,08″ LS, tentukan lokasi SRU tersebut pada peta Sheet No. 47/XLI ‑ B” JAWAB : Posisi peta 47/XLI ‑B : 110° 28′ 27,79″ BT sehingga 110° 27, 13,27″ BT 1 10 “27′ 13,27 1′ 14,52″ ‑ 74,52″
74,52″ : 1,62 = 46 mm dari timur, dan ukurlah dengan penggaris Batas Selatan : 7°30′ sehingga didapat 7030′ LS ‑7029′ 34.08″ = 25.92″ 25,92″ : 1,62 = 16 mm dari selatan dan ukurlah dengan penggaris Titik perpotongan kedua garis tersebut adalah lokasi dari SRU yang dimaksud, yaitu 46 mm dari sisi timur dan 16 mm dari sisi selatan berada di sekitar Tnangulasi T.932