Prosedur Pemanjatan
Dalam suatu pemanjatan semua yang dilakukan haruslah terencana. Baik persiapan peralatan, pemasangan alat yang tepat, perhitungan langkah yang cepat, manajement rope, serta memperhatikan faktor keselamatan.
Proses memanjat merupakan gabungan dari berbagai kegiatan dasar sebagai berikut:
1. Mengamati mengenal medan dan menentukan lintasan yang akan dilalui baik secara keseluruhan maupun selangkah demi selangkah.
2. Memikirkan teknik yang akan digunakan secara keseluruhan maupun selangkah demi selangkah.
3. Mempersiapkan persiapan yang diperlukan.
4. Gerak memanjat yang sesuai dengan lintasan dan teknik yang telah di rencanakan.
5. Penyimpanan energi/ istirahat
Istilah dalam pemanjatan
Leader : Orang yang pertama memanjat / membuka jalur
Belayer : Orang yang mengamankan si pemanjat
Boulder : Latihan ketrampilan/ merambat
Travers : Berpindah / kekiri atau kekanan
Tope rope : Memanjat dengan tali yang terpasang
Hanging belay : Si pengaman membelay sambil menggantung
Teknik Memanjat
Teknik memanjat pada dasarnya merupakan cara agar kita dapat menempatkan tubuh sedemikian rupa sehingga, Cukup stabil, Memberi peluang untuk bergerak/memanjat, Dapat bertahan lama/tidak melelahkan .
Stabilitas/keseimbangan kedudukan badan muncul sebagai hasil hubungan antara berat badan gaya tumpuan/pegangan yang diberikan oleh permukaan tebing. Pengaruh letak badan, gaya tumpuan dan pegangan menentukan kestabilan yang diperoleh. Peluang gerak (untuk mendaki lebih lanjut) ditentukan oleh kemampuan menempatkan tubuh pada tempat yang cocok untuk kondisi medan yang dihadapi. Pada umumnya dinding tebing terdiri dari crack dan ledges karena pengaruh iklim, suhu, dan lain. Karena bermacam-macam kondisi permukaan dinding
Teknik memanjat dikelompokan berdasarkan 3 kategori umum yaitu:
a. Face Climbing
Yaitu memanjat pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan atau rongga yang memadai sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan. Para pendaki pemula biasanya, mempunyai kecenderungan untuk mempercayakan sebagian besar berat tubuhnya pada tangan dan juga menampatkan badan rapat pada tebing. Ini adalah kecenderungan yang salah. Dalam pemanjatan usahakan untuk selalu memiliki tiga titik tumpuan, dari dua tangan satu kaki, atau dua kaki satu tangan.
b. Friction/slab climbing
Teknik ini semata-mata hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya tumpu. Ini dilakukan pada permukaan tebing yang tidak terlalu vertical, dimana kekerasan permukaan tebing cukup untuk menghasilkan gaya gesekan.
c. Fissure Climbing
Jika diperhatikan bagaimana sebuah pasak dapat terbenam erat-erat dalam celah maka terlihat bahwa pasak sudah tercabut dari celah tempat dipasang karena adanya gaya penahan yang diberikan oleh dinding celah tersebut. Celah/crack dapat dipergunakan untuk menghasilkan gaya penahan sedemikian rupa dengan mempergunakan anggota badan atau bagian dari anggota badan yang seolah-olah berfungsi sebagai pasak.
Teknik pemanjatan yang sekarang ini terbagi menjadi 3 bagian :
a. Artifisial Climbing
Adalah pemanjatan yang seluruhnya menggantungkan pada peralatan. Baik itu peralatan pengaman sisip yang menggunakan rekahan-rekahan maupun peralatan untuk melubangi tebing yaitu bor.
b. Free Climbing
Dapat diartikan suatu pemanjatan yang “on sight”, pemanjatan yang benar-benar menggunakan ketrampilan walaupun tetap menggunakan alat atau pegangan sisip atau paku tebing, pengaman hanya untuk istirahat dan pengamanan saat pemanjat jatuh
c. Solo Climbing
Adalah teknik pemanjatan yang dilakukan seorang diri tanpa adanya orang kedua sebagai pengaman.
TEKNIK-TEKNIK DALAM PEMANJATAN TEBING
☻ PEGANGAN
Idealnya, pegangan tangan lebih banyak berfungsi mendukung tumpuan beban di kaki dan menjaga keseimbangan tubuh dan berfungsi membantu kaki dalam menopang beban tubuh.
· Open Grip
Teknik open grip biasa digunakan pada permukaan yang luas bentuk sebuah genggaman. Apabila permukaan tebing besar untuk sebuah genggaman, seluruh jari dan telapak tangan teknik ini dapat digunakan.
· Pinch Grip
Sesuai namanya, pinch grip adalah teknik pegangan tangan seperti mencubit. Kekuatan pegangan diperoleh karena tekanan antara ibu jari dengan jari-jari lainnya secara berlawanan arah mencubit permukaan tebing. Teknik pinch grip biasa digunakan pada cacat tebing berupa tonjolan.
· Crimp Grip
Teknik crimp grip, pada umumnya dilakukan pada permukaan tebing yang tipis. Teknik ini sangat mengandalkan kekuatan yang besar pada otot-otot jari.
· Palming
Dalam teknik palming, bagian telapak tangan yang digunakan sebagai pegangan. Fungsi tangan pada palming, sebagai penopang dan pendorong beban tubuh naik ke atas. Teknik ini dapat digunakan pada permukaan tebing yang slab.
· SidePull
Sidepull adalah teknik pegangan dengan cara menarik celah rekahan tebing ke arah samping kanan atau kiri karena bentuk celah rekahan biasanya memanjang vertical. Teknik sidepull dapat digunakan misalnya untuk posisi istirahat selama perintisan jalur dengan cara posisi tangan diluruskan semaksimal mungkin.
· Jamming
Tiga jenis pegangan jamming yaitu :
a. fingers jamming
Digunakan pada crack yang hanya menyisakan celah untuk beberapa ruas jari. Caranya adalah memasukkan jari-jari ke dalam crack semaksimal mungkin dengan posisi jempol ke bawah dan telapak tangan menghadap keluar, lalu putar pergelangan tangan ke arah bawah.
b. Hand Jamming
Apabila crack lebih lebar dan dapat menampung seluruh bagian telapak tangan, maka teknik ini dapat digunakan. Caranya adalah memasukkan telapak tangan ke dalam crack dengan posisi jempol diselipkan dibagian dalam telapak tangan.
c. First Jamming
Kita dapat menggunakan teknik ini untuk crack yang lebih lebar lagi yaitu dengan cara menjejali crack dengan telapak tangan. Kedua sisi kiri dan kanan kepalan tangan akan menekan kedua sisi crack sehingga kepalan tangan mengunci pegangan.
· Off-width
Teknik ini digunakan ketika ukuran tangan sudah tidak bisa menjangkau sisi crack. Crack terlalu lebar untuk dijejali tangan. Cara yang dapat digunakan untuk adalah dengan memanfaatkan seluruh bagian lengan, mulai dari telapak tangan hingga punggung dengan menggunakan teknik off-width.
· Stemming and Bridging
Digunakan pada crack yang sangat lebar tetapi kedua sisinya masih dijangkau dengan tangan. Crack untuk teknik ini biasa berbentuk cerobong asap. Crack semacam ini disebut dengan chimney.
☻ PIJAKAN
Bentuk pijakan kaki di tebing menyesuaikan dengan bentuk permukaan tebing. Bentuk permukaan tebing sendiri bervariasi.
· Smearing
Teknik smearing biasa dipakai pada permukaan tebing slab, yaitu muka tebing dengan yang kemiringannya kurang dari 90 derajat. Dalam teknik ini, hampir seluruh beban tubuh bertumpu pada kaki.
· Edging
Pada permukaan tebing yang tegak lurus bersudut 90 derajat atau lebih (overhang). Pijakan kaki lebih optimal menggunakan teknik edging, yaitu memanfaatkan ujung depan sepatu panjat pada permukaan tebing yang tipis.
· Hooking
Kaki tidak hanya berfungsi sebagai pijakan yang menopang tubuh, tetapi digunakan sebagai pengait yang menahan tubuh saat tubuh dalam posisi menggantung pada medan overhang atau roof.
Memanjat Tebing Slab dan Overhang
Tebing alam yang yang kita panjat tidak selalu 90 derajat vertikal. Tebing yang derajat kemiringannya lebih besar dari 90 biasa disebut Slab. Tergantung dari jenis batu ditebing tersebut, untuk memanjat slab pada umumnya diperlukan banyak friksi atau kontak dari sebagian besar karet sepatu.
Pada saat memanjat tebing slab posisi badan harus cenderung tegak lurus yang memungkinkan pusat gravitasi yang jatuh (tekanan berat badan) sepenuhnya tertumpu pada bagian kaki yang menempel pada tebing. jika memanjat tebing slab dengan posisi badan yang paralel/ sejajar dengan kemiringan tebing,akan mudah tergelincir dan jatuh. Posisi yang salah ini sangat populer dikalangan pemula dikarenakan rasa takut jatuh yang membuat mereka berpikir dengan memeluk/menempelkan badan ke tebing akan menyelamatkan mereka.
Sedangkan tebing yang kemiringannya lebih kecil dari 90 derajat biasa disebut Overhang. Untuk memanjat tebing overhang diperlukan kekuatan yang tinggi dan tehnik memanjat yang baik. Salah satu kekuatan yang penting yaitu core strength atau kekuatan otot-otot perut, Karena otot perut diperlukan untuk menghubungkan kekuatan tangan dan kekuatan kaki sehingga badan akan tetap dekat dengan tebing yang akan membuat mudah mengontrol keseimbangan.
Hal yang perlu diperhatikan dalam memanjat tebing overhang :
1.Memanjat dengan cepat. Saat memanjat tebing overhang tangan lebih cepat lelah. Dengan memanjat cepat dan menggunakan energi yang se-efektif dan se-efeisien mungkin. Memanjat dengan cepat artinya harus cepat dalam mengambil keputusan dimana akan menempatkan kaki dan pegangan mana yang akan dicapai berikutnya.
2.Pertahankan tiga titik kontak atau Three points of Contact. Rumus ini dikenal sebagai aturan dasar memanjat tebing untuk para pemula Pada saat melakukan gerak vertikal usahakan tiga titik tetap menempel yaitu dua kaki dan satu tangan, atau sebaliknya; dua tangan dan satu kaki.
3.Pada saat posisi pegangan dan tumpuan kaki sudah bagus dan mendukung istirahatlah dan goyang-goyangkan tangan dan jari-jari supaya otot-otot lebih segar untuk mengeksekusi gerak selanjutnya. Untuk pemanjatan rute panjang, harus pintar-pintar mengambil kesempatan untuk sering beristirahat.
4.Tetaplah fokus dan bernafas dengan baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar